Title : Our First Love
Author : HannaByun_ss
Main cast : Kim TaeYeon SNSD – Byun BaekHyun EXO – Jung Jessica SNSD
Support
cast :
Yoon BoMi Apink – Park ChanYeol EXO – Kim JiWoongLength : chapter
Rating : PG-16
Genre : School life, rommance, sad (maybe)
Note : haaiiii... ini FF chapter pertamaku. Kalo nggak ada
respon banyak, berarti aku gagal bikin FF chapter, jadi nggak akan aku lanjut
yaaa.. oh ya, Cuma mau kasih tau dikit tentang nih prolog, soalnya prolog ini
aku buat berdasarkan pengalaman cintaku sendiri. Mian kalo biasa aja..
Oke Happy Reading... ^^
Introduction cast :
Yeoja berperawakan manis dan
mungil. Ia memiliki cinta pertamanya yaitu Byun BaekHyun yang satu sekolah dengan
tetangga sekaligus teman kecilnya, Jung Jessica. Ia selalu merasa bodoh jika
berada di dekat BaekHyun, padahal itu adalah pertemuan pertama mereka semenjak
6 tahun yang lalu. Suka merasa cemburu pada Jessica, karena Jessica anak pintar
yang ia anggap pantas bersanding dengan BaekHyun yang juga murid pintar di
sekolah terkenal di Seoul.
Byun BaekHyun
Namja tampan bersuara bass,
diam-diam ia masih memendam rasa pada teman semasa sekolah dasar dulu, Kim
TaeYeon. Menjadi teman baik Jessica karena berada di sekolah dan kelas yang
sama dengannya. Selalu minta pendapat Jessica tentang hubungannya dengan
TaeYeon.
Jung Jessica
Teman kecil Taeyeon, dulu saat satu
sekolah di taman kanak-kanak mereka sangat dekat. Tidak lagi begitu dekat saat
mereka sibuk dengan sekolahnya yang selalu berbeda. Berperawakan cantik, baik,
dan lemah lembut yang telah menurun dari orang tuanya. Dekat sekali dengan
BaekHyun karena duduk satu meja dan bertempat les yang sama dengannya pada awal
semester ke 4 di sekolah menengah atas. Selalu merasa menjadi penghubung antara
TaeYeon dan BaekHyun.
Yoon BoMi
Teman sekelas BaekYeon sewaktu di
sekolah dasar, dan menjadi teman sekelas BaekHyun di sekolah menengah atas.
Diam-diam menyukai BaekHyun. Dan semakin mempererat hubungan dengan BaekHyun
saat melihat TaeYeon dan BaekHyun bersama di festival budaya yang diadakan
sekolahnya.
Park ChanYeol
Namja tinggi dengan suara berat.
Teman BaekYeon waktu sekolah dasar, dan menjadi teman satu sekolah dengan
BaekHyun di sekolah menengah pertama dan atas. Dan menjadi teman satu les
TaeYeon. Selalu menggoda TaeYeon saat di tempat les.
Kakak laki-laki TaeYeon yang
pemarah tapi sebenarnya sangat menyayangi TaeYeon. Selalu mempermalukan TaeYeon
di depan teman-teman TaeYeon. Kurang menyukai hubungan BaekYeon.
PROLOG
Taeyeon POV
haaahhh..
kenapa hari ini begitu melelahkan bagiku, padahal
aku memang terbiasa pulang jam segini, walaupun hari ini memang hari sabtu, ada
tambahan ekstrakulikuler di sekolahku sehabis pulang sekolah. Tapi aku menyukai
ekstrakulikulerku itu, aku dengan senang hati mengikutinya, jadi ku rasa bukan
itu penyebabnya aku terlalu lelah hari ini.
Ya, aku Kim TaeYeon. Aku murid biasa di sekolah
menengah atas di daerah Gwacheon, sebelah selatan Kota Seoul. Aku baru saja
turun dari bus yang mengantarku ke rumah nyamanku. Aku ingin cepat-cepat sampai
rumah. Butuh waktu sekitar 5 menit untuk sampai ke rumahku dengan berjalan kaki
setelah turun dari bus itu.
Bruuumm.. chhiiitt...
Entah apa yang membawa kepalaku untuk menoleh
kearah rumah bercat tembok orange itu ketika sebuah sepeda motor berhenti tepat
di depannya. Aku melihat dia turun dari sepeda motor itu. Siapa kali ini yg
mengatarnya pulang? Ya, dia adalah tetanggaku. Rumah kami jelas bersebelahan.
Namanya Jessica, Jung Jessica. Kami teman sejak kecil, dulu kami bersekolah
taman kanak-kanak dan les di tempat yang sama. Ya, hanya taman kanak-kanak,
setelah itu sekolah kami selalu berbeda. Dan itulah yang menyebabkan kami tidak
begitu dekat lagi sampai sekarang. Hanya kalau kami sedang berpapasan saja kami
saling mengulas senyum dan mengobrol sebentar, itupun hanya menanyakan soal
kabar satu sama lain. Dia adalah orang yang pendiam, tidak mudah bergaul,
bahkan waktu di taman kanak-kanak, dia selalu menempel padaku dan tidak berani
bermain dengan teman lainnya kalau tidak ada aku disana. Dulu aku percaya dia
tidak akan pernah punya pacar sampai dia duduk di sekolah menengah atas, tapi
dugaanku salah, dia sudah pernah berpacaran waktu masih di menengah pertama.
Dan sudah bergonta-ganti pacar beberapa kali. Terbukti dengan yang mengantarnya
pulang kali ini bukan orang yang aku lihat waktu itu. Walaupun pria itu memakai
helm, tapi aku masih mengingat jelas perawakan pria yang mangantarnya waktu
itu.
"Ne, itu rumahnya." katanya pada pria itu
sambil menunjuk ke arah rumahku. APA?! Rumahku? apa aku tidak salah lihat?
Jessica menunjuk rumahku pada pria itu?
Aku jadi penasaran, siapa pria itu? Kenapa Jessica
menunjuk rumahku? Seakan seperti pria itu yang menanyakan rumahku padanya. Jadi
kuputuskan untuk memperlambat langkahku dan menguping sebentar.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Gomawo sudah
mau pulang bersamaku." kata pria itu.
"Aiisshh.. harusnya aku yang berterima kasih
padamu karena sudah mengantarku pulang."
"Hahaahha.. yasudah, aku pulang sekarang, ne.
Anyeong.." kata pria itu sambil melambaikan tangannya.
"Tidak mau mampir dulu? Barangkali saja dia
memang belum pulang. Tunggu saja di rumahku."
"Ah..., kurasa tidak perlu. Lain kali saja
bagaimana?"
"Ne, arraseo! Berarti lain kali kau harus
menunggu, ne?"
"Ne, pasti!" balas pria itu. Dengan cepat
pria itu menyalakan mesin motornya. "Anyeong..!" lanjutnya.
Jessica hanya balas melambaikan tangannya pada pria
itu dan mengatakan kata 'anyeong' tanpa suara itu.
Mata Jessica tidak berhenti memandang punggung pria
itu sampai akhirnya matanya menangkap sosokku yang tanpa kusadari telah
mematung sambil terus memerhatikan Jessica dari jarak yang tidak terbilang
jauh, hanya sepuluh langkah mungkin.
"Oh!" mata Jessica terbelalak melihatku.
"Taeyeon-ah? Sejak kapan kau berada di situ?" tanyanya kemudian
padaku. Ternyata dia benar-benar tidak menyadari aku sejak tadi. Lalu ia
berjalan sedikit cepat ke arahku.
Aku diam saja tidak membalas perkataanya, sampai
aku tersadar kalau Sica sudah berada tepat satu langkah di depanku sekarang,
"Ah? m.., b-baru saja. Aku hanya melihatmu turun dari motor pria
itu." jawabku gugup, takut ketahuan kalau sedari tadi aku menguping
pembicaraan mereka.
"Ah jinja? Kau melihatnya?" tanyanya
sedikit antusias.
"N-ne. Apa pria itu temanmu?" kataku
sambil mengulas senyum kikuk, "wooaahh, ternyata kau benar-benar gadis
pemberani sekarang. Bahkan sekarang kau tidak takut untuk berhubungan dengan
seorang pria." lanjutku. Aissshh.., bicara apa kau ini Kim TaeYeon?
"Oh?! Kau benar-benar melihat kami?"
tanyanya lebih antusias lagi.
"Ne tentu saja." tanya ku heran. Kenapa
dia seantusias itu?
"Kau benar melihatnya tapi kau tudak tahu
siapa namja itu?!" tanyanya lebih menggebu-gebu.
Hah?! Bicara apa dia? Jelas saja aku tidak
mengetahuinya. Memangnya aku mengenal teman-temannya? Sekolah kami saja
berbeda.
"Tentu saja aku tidak tahu. Wae?" tanyaku
penasaran.
Kulihat dia membuang napasnya kecewa, "Dia itu
BaekHyun. Byun BaekHyun!" katanya yang sukses membuatku membuka mulutku
kaget.
A-apa?! dia menyebut siapa tadi? Pria itu.....?
Seperti sudah tahu aku mengatakan apa, dia
melanjukan perkataannya, "Ne! Kau tidak mengenali perawakannya? Dia
BaekHyun."
Serasa tersambar petir, jantungku berdegup sangat
kencang. Ya, namja itu adalah cinta pertamaku dulu waktu di sekolah dasar.
-flashback on-
Awalnya aku tidak terlalu menganggap dia ada,
walaupun kami selalu berada di kelas yang sama. Itu semua karena aku salalu
bermain dengan murid perempuan. Sampai pertengahan kelas 4 sekolah dasar,
seorang namja yang sepertinya teman dekat BaekHyun memberi tahuku kalau ia
menyukaiku. Tahu akan hal itu, dengan polosnya aku ikut-ikutan menyukainya.
Aneh nya rasa suka itu terus berlanjut. Rasa itu semakin berkembang saat aku
selalu bermain bersamanya waktu jam pelajaran olahraga, istirahat, bahkan saat
pulang sekolah sebelum kami benar-benar pulang dari sekolah. Aku bahkan mencari
tahu tentangnya lewat pengamatanku. Aku sampai mengetahui kalau dia itu cukup
populer dikalangan murid perempuan, mengetahui kalau ia selalu membuang
pinggiran roti tawar saat ia membawanya ke sekolah, tahu kalau ternyata adiknya
juga bersekolah di tempat yang sama dengan kami, dan masih banyak lagi. Sampai
pada saat hubungan kami -yang tidak berstatus pacaran itu dan hanya sekedar
saling suka- terdengar oleh wali kelas, kami malah ditaruh duduk bersebelahan,
dengan meja kami yang berada di deretan paling belakang dekat mading kelas.
Sampai hari itu tiba, dimana hari pertama kami di
kelas 6, seperti biasanya, aku menunggunya di dekat gerbang sekolah. Bel masuk
hampir berbunyi, aku tetap menunggunya. 'mungkin dia telat hari ini' pikirku
waktu itu. Mungkin aku akan terus memikirkannya yang tidak kunjung datang di
hari itu kalau bukan salah satu temanku yang menepuk pundakku dari belakang.
"Kenapa terus berdiam di sini? Bel sebentar
lagi akan berbunyi. Kajja masuk bersama!" ajaknya yang sukses membuatku
mengikuti langkahnya pergi ke kelas.
"Ya Taeyeon! Kudengar sepertinya Byun BaekHyun
pindah sekolah ke Seoul." katanya kemudian sambil terus melangkah menuju
kelas bersama.
Tubuhku menegang saat temanku berkata begitu
padaku. Siapa yang ia bilang pindah barusan? Byun...? Tentu saja aku tidak
salah dengar, karena sedetik kemudian temanku langsung melanjutkan kalimatnya
lagi,
"Dia pindah sekolah ke sana untuk mengincar
Anyang Science Junior High School di Anyang. Karena yang kudengar katanya
sekolah itu sulit dimasuki. Hanya anak pintar dengan nilai yang tinggi saja
yang dapat masuk ke sekolah itu. Dan dengan kita bersekolah dasar di Seoul,
maka membuka peluang kita bisa masuk sekolah Anyang itu dengan mudah tanpa
harus mencapai nilai tinggu. Katanya sih sekolah itu mengutamakan murid-murid
pintar lulusan sekolah dasar dari Seoul untuk masuk ke dalamnya. Apalagi sudah
kita ketahui, nilai BaekHyun selama ini selalu berada di peringkat nomor 3,
kurasa dia akan berhasil masuk Anyang Science Junior High School itu
nantinya." jelas temanku itu panjang lebar.
Mollaseo..., aku mendengar semua perkataan temanku
dengan baik atau tidak, karena sedari tadi pikiranku hanya pada sosok Byun
BaekHyun yang selalu aku lihat setiap paginya. Tapi itu tidak mungkin terjadi
lagi, karena dia sudah pergi meninggalkanku tanpa pamit untuk meraih
cita-citanya.
Tapi yang terpenting bagiku, aku cukup lega karena
dia hanya pindah sekolah, tidak pindah rumah. Rumahnya masih yang dulu, masih sama
seperti yang aku ketahui dulu. Sampai akhirnya aku duduk di bangku sekolah
menengah pertama, singkat cerita kami kembali berhubungan lewat sosial media
dan saling bertukar nomor handphone. Jadi kami kembali bisa mengobrol seperti
dulu. Dan tepat seperti dugaan temanku dulu, dia berhasil masuk ke sekolah Anyang
Science Junior High School dengan nilai yang tinggi. Dan aku masuk ke sekolah
swasta dekat rumahku yang hanya menghabiskan waktu 10 menit untuk sampai dengan
berjalan kaki.
Walaupun kami selalu berhubungan, kami tidak pernah
bertemu secara langsung. Sampai ia benar-benar menyatakan cintanya padaku pada
tanggal 16 Januari 2011 hanya dengan lewat pesan dari handphone. Dia bilang dia
masih menyukainku dan mengajakku berpacaran. Akhirnya kami berpacaran, dan
lagi-lagi hanya lewat pesan. Kami tidak pernah benar-benar bertemu satu sama
lain. Mungkin pernah dia bilang ingin bertemu denganku, tapi aku cepat-cepat
mencegahnya. Mengingat sebenarnya aku dilarang berpacaran dengan kedua
orangtuaku. Alasannya simple, karena tidak ingin membuat nilaiku menurun salama
bersekolah. Ya, kami berpacaran diam-diam, tanpa orangtuaku mengetahuinya.
Sampai pada akhirnya hubungan kami putus pada bulan keempat sejak kami pertama
resmi menjadi pacar, yaitu 26 April, tidak lama setelah ulang tahunnya yang ke
14 pada 17 April. Alasannya karena kami tidak pernah bertemu satu sama lain dan
sering lose contact beberapa minggu terakhir. Ingin rasanya aku menangis, tapi
air mataku tidak kunjung turun. Aneh. Sebenarnya aku sedih atau tidak?
Tapi hubungan kami tidak terputus sama sekali,
dengan baik hatinya dia mau terus membalas pesanku walaupun status kami
sekarang hanyalah teman. Sampai kami menginjak sekolah menengah atas, dia
kembali berhasil mendapatkan sekolah Seoul Performing Art High School (SOPA)
yang berada di Seoul dengan nilai yang tinggi juga. Aku? Aku hanya berhasil
masuk ke sekolah biasa.
Aku pernah sempat dengar kalau ternyata tetanggaku
Jessica masuk ke sekolah SOPA, yang berarti satu sekolah dengan BaekHyun. Tapi aku
tidak tahu kalau mereka ternyata juga berada di kelas yang sama. Aku tidak tahu
Jessica mendengar dari siapa, tapi dia mengetahui kalau aku pernah menjadi
yeojachingu dari seorang Byun Baekhyun. Sejak saat itu, dia selalu menggodaku
ketika kami saling bertemu. Jessica gadis cantik, aku tahu itu sejak lama,
tidak sombong dan lemah lembut, tidak jarang aku sempat khawatir kalau mereka
bisa saling mengenal dan menjadi dekat.
flashback off
Seperti sekarang ini, kekhawatiranku akhirnya
berwujud dengan mereka pulang bersama. Hatiku langsung mencelos saat tahu kalau
namja tadi adalah namja yang masih aku cintai sampai sekarang.
Tersadar dari lamunanku yang aku tidak tahu sudah
berapa lama ketika petikan jari lentik Jessica terdengar dari depan wajahku.
"Kau kenapa malah bengong?"
"W-wae?"
"Aiiisshhh Kim TaeYeon! Kau masih tidak
sadarkan diri rupanya?"
Jelas saja aku bengong sejak tadi, apa dia tidak
menyadari kalau saat ini aku sedang cemburu padanya? Kenapa bisa-bisanya dia
pulang bersama namja itu, padahal ia tahu betul perasaanku pada namja itu, tapi
masih saja berani pulang bersamanya. Aaaiiisshhh...!!!! Kau sungguh tidak
pantas bicara seperti itu Kim TaeYeon! Memang kau ini siapanya namja itu? Kau
bukan lagi yeojachingunya, berhentilah merutuki teman sejak kecilmu itu. Dia
tidak bersalah sama sekali.
"M-mianhaeyo.." jawabku sambil menundukan
wajahku.
Dia membuang napas pendeknya lalu tersenyum,
"Aku tahu kau pasti sangat kaget," aku kembali tertunduk, "tapi
asal kau tahu, dia yang mengajakku pulang bersama."
Bagai disambar petir, aku mengangkat kepalaku
seketika mendengar ucapannya. Jadi benar, mereka sekarang telah menjalin
hubungan. Apa Jessica benar-benar menerima BaekHyun? Sepertinya benar, terbukti
kalau mereka pulang bersama tadi. Rasanya air mataku akan jatuh saat itu juga
kalau ia tidak kembali berucap,
"aahhh..., tapi kau jangan salah sangka.
Hubungan kami hanya teman." jelasnya. Benarkah? Haruskah aku
mempercayainya? "Tapi memang benar dia yang meminta pulang bersama
dengaku. Padahal aku sudah menolaknya dengan alasan pacarku akan
menjemput,"
Hancur sudah, sepertinya BaekHyun sudah benar-benar
terpana oleh wajah cantik dan hati baiknya Jessica. Aku kembali menundukan
wajahku lebih dalam lagi, aku malu menampilkan wajahku yang sangat jelek ini
dihadapannya. Walaupun kau tidak menyukainya, tapi BaekHyunlah yang menyukaimu.
Fakta itu lebih sakit rupanya.
"Dengan alasan dia ingin melihat rumahmu,
syukur-syukur bisa bertemu denganmu. Aku pernah bilang padanya kalau rumah kita
bersebelahan. Dia langsung antusias ketika tahu fakta itu.
Hahahahahah...." jelasnya lagi yang sontak membuatku kembali
terkaget-kaget.
Apa yang barusan dia katakan itu benar? Aku tidak
salah dengar, kan? Dia benar bilang kalau BaekHyun ingin bertemu denganku? Setelah
selama ini? Setelah kami berpisah salama 6 tahun ini? God...!!
"Waaaahhh.. pipimu merah sekali Taeyeon-ah!
Kau juga masih suka padanya ya? Aku harap kalian bisa berhubungan lagi. Kurasa
BaekHyun masih sungguh mengharapkanmu." aku hanya diam seribu bahasa.
"Taeyeon-ah! Aku tahu kau masih suka berkirim pesan dengannya, beranikan
dirimu untuk mengajaknya pergi duluan. BaekHyun orang yang baik, dia pasti akan
menerima ajakanmu itu. Percayalah padaku!"
Aku sungguh sedang mencerna perkataannya barusan.
Apa harus aku yang pertama kali mengajaknya? Aku tidak percaya diri.
Ottokhe????
"Kalau begitu aku masuk dulu, ne. Jangan lupa
perkataanku tadi. Otte? Annyeong...." katanya sambil melambai lalu berlari
memasuki rumahnya. Aku masih diam tanpa memasang ekspresi sama sekali sampai ia
berlalu masuk ke rumahnya. Apa aku harus????
* * *







Tidak ada komentar:
Posting Komentar